ANDAIKAN INI RAMADHAN TERAKHIRKU

Alkisah, ada seorang bapak tinggal bersama dua anak laki-lakinya. Suatu hari bapak itu memerintahkan dua anaknya itu pergi ke hutan, untuk mengambil ranting terbaik menurut mereka. “Saat kalian menemukannya, kalian tidak boleh menukar dengan ranting yang lain dan jangan menoleh ke belakang,” perintah bapak itu kepada dua anak laki-lakinya.

Anak laki-laki pertama masuk ke dalam hutan. Ia menemukan ranting tapi tak diambilnya. Sebab, ia pikir di depan sana pasti masih banyak ranting yang lebih baik.

Anak laki-laki pertama itu kemudian melanjutkan perjalanannya. Ia kembali menemukan ranting yang lebih bagus dari sebelumnya. Namun, ia tak jadi mengambilnya.

Anak laki-laki pertama terus berjalan menyusuri hutan. Tanpa sadar, ia telah keluar dari hutan tanpa membawa setangkai ranting pun.

Dua anak laki-laki itu diminta berkumpul oleh bapaknya. “Harusnya ada setangkai ranting yang saya bawa, tapi saya banyak memilih sampai tak sadar telah keluar dari hutan tanpa membawa setangkaipun,” ucap anak laki-laki pertama itu.

Bapak itu tersenyum mendengar cerita anak laki-laki pertamanya. “Tentu nak, andai kita tahu kapan kita sudah di ujung hutan itu,” terangnya.

Anak laki-laki kedua menunjukkan ranting yang dia bawa kepada bapaknya. “Rantingnya biasa-biasa saja. Saya banyak temukan ranting yang lebih bagus dari itu,” komentar anak laki-laki pertama.

Bapak itu bertanya kepada anak laki-laki kedua. “Nak, mengapa kamu pilih ranting itu,” tanya dia. “Saya pilih ranting ini karena saya suka, walau di sana banyak ranting yang lebih bagus,” jawab anak kedua itu.

Dari kisah-maaf agak panjang-tersebut memberikan pesan yang amat bermakna bagi kehidupan kita sehari-hari, termasuk dalam menghadapi tamu VVIP (very-very important). Bulan Ramadhan adalah tamu VVIP.

Pada bulan Ramadhan, Allah Swt menetapkan puasa sebagai fardhu dan shalat tarawih sebagai sunnah. Barangsiapa melakukan ibadah sunnah pada bulan ini, pahalanya seolah-olah ia melakukan ibadah fardhu pada bulan-bulan lainnya. Barangsiapa melakukan ibadah fardhu pada bulan ini, pahalanya seolah-olah ia telah melakukan 70 ibadah fardhu pada bulan-bulan lainnya.

Ada banyak pelajaran dalam puasa, salah satunya pelajaran mengendalikan nafsu konsumtif. Nafsu konsumtif adalah hasrat yang mengarah pada tingkat penggunaan suatu barang tertentu secara berlebihan, dengan menghabiskan tanpa pernah berpikir untuk membuat atau menghasilkan sesuatu.

Nafsu konsumtif akan membawa manusia pada pola hidup yang berlebihan, yang nantinya juga akan membuat dia menjadi serigala bagi manusia lainnya. Homo homini lupus boleh jadi benar jika melihat berbagai kejadian belakangan ini. Dalam hal duniawi, ia tak pernah cukup dengan apa yang dimilikinya. Ia memiliki watak ‘serigala’, tapi dalam bentuk yang lain.

Pejabat bergaji tinggi tapi melakukan korupsi merupakan fenomena homo homini lupus. Ia tak puas dengan gaji yang diperolehnya, kemudian melakukan segala cara sehingga mendapatkan tambahan dana dengan cara tak benar. Ia lebih memilih hidup bergelimang harta (haram) dibanding hidup terhormat.

Alih-alih ia mempraktikkan amanah, namun ia justru mempraktikkan khianat. Ia disuruh berlaku adil namun ia justru berlaku dzalim. Ia mengingkari amanah suci yang diembannya. Jabatan yang sejatinya dapat berkontribusi postif bagi masyarakat banyak, tapi justru hanya memberikan keuntungan sesaat bagi sebagian orang.

Pelajaran berikutnya adalah mengenai kejujuran. Puasa Ramadhan menuntun kita untuk berlaku jujur. Mungkin, di depan banyak orang kita mengatakan tak makan, minum dan lainnya yang membatalkan puasa, tetapi bisa jadi di belakang sebaliknya. Ini ujian kejujuran di bulan Ramadhan. Pelajaran ketiga ini amat penting dalam kehidupan sehari-hari. Para pengampu jabatan di lembaga manapun mesti belajar pelajaran ini.

Pelajaran itu amat bermanfaat bagi manusia sebagai bekal berharga di kemudian hari. Sudah optimalkah kita berpuasa dan ibadah lainnya selama bulan Ramadhan?. Pertanyaan ini patut kita renungkan baik-baik, apalagi bulan Ramadhan 1440 H sebentar lagi akan berakhir.

Dalam sebuah hadist disebutkan, betapa banyak orang yang berpuasa, namun yang didapatkan hanya lapar dan haus. Penyebabnya, orang-orang yang melakukan hal itu tak memahami hakikat puasa yang diwajibkan, sehingga Allah Swt tak memberikan pahala kepadanya.

Menganggap bahwa Ramadhan kali ini mungkin Ramadhan terakhir, sehingga dapat menjaga kita dari kegagalan di bulan Ramadhan, sangat penting. Ia akan tolak semua acara yang dapat membuatnya menyia-nyiakan bulan Ramadhan, seperti acara nongkrong tak jelas dan lain-lain.

Terhadap hal itu, Rasulullah Saw menggambarkannya dengan shalat. Nabi bersabda, “Jika kamu hendak melaksanakan shalat, shalatlah seperti shalat terakhir, jangan mengatakan sesuatu yang membuatmu minta maaf di kemudian hari dan kumpulkan keputusasaan terhadap apa yang ada pada manusia”.

Saatnya kita sebisa mungkin memanfaatkan setiap hari selama Ramadhan sebagai momen istimewa untuk bermuhasabah, berbenah diri dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Jika tidak, hingga berakhir bulan Ramadhan ini, nasib kita akan sama seperti anak pertama di atas yang tak mendapatkan apapun. Kita juga seperti dua anak laki-laki itu, tak tahu kapan hutan itu berujung, tak tahu kapan umur kita berujung.